Hujan menggigil di atap rumah tua itu, persis seperti rasa dingin yang merayapi tulang sumsum Mei Lan. Cahaya lentera di tangannya berkedip-kedip, nyaris padam, sama redupnya dengan harapan yang per…
"Aku Memintamu Pergi, Tapi Langkahmu Masih Tinggal di Pikiranku" Lorong-lorong Istana Teratai membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Lampu-lampu minyak berkedip-kedip, menari-nari di …
Ia Menatapku Seolah Tak Kenal, Padahal Aku Pernah Jadi Dunianya Embun pagi merayapi kelopak mawar di taman belakang. Wanginya menusuk kalbu, mengingatkanku pada senyumnya yang dulu, sebelum kabut k…
Langit Chang'an malam itu berhias bintang, serupa taburan kristal di atas beludru kelam. Namun, di mata Awan Jing, langit itu hanya sebuah tirai abu-abu, memantulkan kesedihan yang merajam jantu…
Hujan menggigil membasahi Kota Tua, persis seperti hatiku ketika pertama kali melihatnya lagi. Li Wei. Bayangan masa lalu kami menari-nari di balik tirai air, kenangan manis yang kini terasa seperti…
Hujan menyelimuti pusara batu, setiap tetesnya adalah bisikan pilu yang tak terucap. Di antara jajaran nisan yang membisu, berdirilah Ling Wei, bukan sebagai manusia, melainkan roh yang terikat. Du…
Hujan jatuh di atas makam kakek Li, desir lembutnya menari di antara batu nisan yang dingin. Di bawah naungan payung usang, A Mei berdiri, bahunya bergetar bukan hanya karena angin musim gugur, tap…