"Aku Memintamu Pergi, Tapi Langkahmu Masih Tinggal di Pikiranku"
Lorong-lorong Istana Teratai membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Lampu-lampu minyak berkedip-kedip, menari-nari di dinding yang dilapisi sutra usang berwarna nila. Udara terasa berat, diisi aroma cendana pahit dan ketakutan yang mengendap. Lima belas tahun sudah berlalu sejak malam TRAGEDI itu. Lima belas tahun sejak Bai Lian dinyatakan hilang di kabut Pegunungan Seribu Naga.
"Kau kembali," bisik Kaisar Xuan, suaranya serak seperti gesekan batu nisan. Ia menatap sosok di hadapannya, Bai Lian yang muncul kembali dari kegelapan. Wajahnya sama cantiknya seperti dulu, namun matanya... matanya menyimpan rahasia sedalam jurang.
"Aku memang memintamu pergi, Lian. Demi keamananmu, demi istana ini. Tapi langkahmu... langkahmu masih tinggal di pikiranku setiap hari," lanjut Kaisar, matanya terpaku pada sosok yang berdiri di depannya.
Bai Lian tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya. "Keamanan? Anda melindungi siapa, Yang Mulia? Diri Anda sendiri?"
Kabut misterius menyelimuti puncak Seribu Naga. Legenda mengatakan bahwa di sana bersemayam naga-naga purba dan arwah-arwah penasaran. Bai Lian terlatih di sana. Ia belajar tentang kesabaran, tentang dendam, tentang bagaimana menyembunyikan pisau di balik senyum.
"Kau... kau tahu segalanya?" Kaisar Xuan mundur selangkah, wajahnya pucat pasi.
"Aku tahu tentang perjanjianmu dengan Klan Serigala, Yang Mulia. Aku tahu tentang pengorbanan yang kau lakukan demi takhta," jawab Bai Lian, suaranya lembut namun setiap kata bagai anak panah yang menancap.
"Aku... aku terpaksa!" Kaisar membela diri. "Demi rakyatku..."
Bai Lian tertawa lirih. "Rakyatmu? Atau ambisimu? Dulu aku mencintaimu seperti bunga teratai mencintai matahari. Aku rela mati untukmu. Tapi kau... kau memilih kekuasaan."
Cahaya bulan menerobos masuk melalui jendela, menyinari wajah Bai Lian. Di sana, bukan lagi wajah seorang wanita yang patah hati, melainkan wajah seorang ratu yang haus akan keadilan.
"Kau pikir aku korban? Kau salah, Yang Mulia. Aku adalah penulis naskah ini. Dan kau, hanyalah aktor yang memainkan peranmu dengan sangat baik."
Bai Lian melangkah mendekat, mata Kaisar Xuan membulat penuh ketakutan. Di tangan Bai Lian, tergenggam sebuah jepit rambut teratai perak—jepit rambut yang dulu pernah ia berikan dengan cinta.
"Kau... apa yang akan kau lakukan?" tanya Kaisar dengan suara gemetar.
Bai Lian menatapnya, senyumnya kini bagai belati yang mengkilat. "Aku akan memastikan legenda tentang kejatuhanmu menjadi lagu tidur yang menenangkan bagi generasi mendatang."
Dan kemudian, kebenaran menemukan bentuknya: kejatuhannya adalah awal kebangkitannya.
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama
Post a Comment