Kisah Seru: Bibir Yang Membisikkan Kematian

Hujan menggigil di atap rumah tua itu, persis seperti rasa dingin yang merayapi tulang sumsum Mei Lan. Cahaya lentera di tangannya berkedip-kedip, nyaris padam, sama redupnya dengan harapan yang pernah menyala terang di hatinya. Di hadapannya, berdiri Jian, pria yang dulu adalah dunianya, kini hanyalah bayangan patah masa lalu.

"Sudah lama, Mei Lan," suara Jian serak, seperti bisikan angin di antara pepohonan bambu.

Mei Lan tidak menjawab. Matanya, sekelam malam tanpa bintang, menatap Jian dengan tatapan yang sulit diartikan. Dulu, tatapan itu penuh cinta, kini hanya ada kehampaan. Kehampaan yang membekukan.

"Aku tahu kau membenciku," lanjut Jian, suaranya semakin lirih. "Aku tahu aku pantas mendapatkannya."

Mei Lan akhirnya bersuara. Suaranya halus, namun setiap katanya terasa seperti pecahan kaca yang melukai. "Benci? Kau meremehkanku, Jian. Benci terlalu mudah. Benci terlalu sederhana untuk menggambarkan apa yang kurasakan."

Mereka terdiam, terperangkap dalam pusaran masa lalu. Masa lalu yang penuh janji, tawa, dan impian, kini ternoda oleh satu kata: pengkhianatan. Jian mengkhianati Mei Lan. Ia menikahi wanita lain, meninggalkan Mei Lan dengan hati yang hancur berkeping-keping.

"Mengapa kau datang kemari?" tanya Jian, memecah keheningan.

Mei Lan tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Aku datang untuk menagih hutang."

Jian menelan ludah. Ia merasakan hawa dingin yang menusuk, bukan hanya karena hujan, tapi karena tatapan Mei Lan. Ia tahu, Mei Lan tidak pernah melupakan. Ia tahu, Mei Lan menyimpan dendam yang membara.

"Hutang apa?" tanya Jian, suaranya bergetar.

Mei Lan mendekat, langkahnya ringan namun mematikan. Ia berdiri tepat di depan Jian, menatapnya dari jarak sedekat ini. Cahaya lentera menerangi wajahnya, menampakkan garis-garis halus yang terbentuk karena penderitaan bertahun-tahun.

"Hutang nyawa, Jian," bisik Mei Lan.

Jian terkejut. Ia mundur selangkah. "Apa maksudmu?!"

Mei Lan tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya, memperlihatkan sebuah botol kecil berisi cairan berwarna merah gelap. Aromanya menyengat, familiar namun mematikan.

"Kau ingat ramuan ini, Jian?" tanya Mei Lan, senyumnya kini penuh kemenangan. "Ibumu, wanita yang kau cintai itu, meminumnya. Aku yang memberikannya."

Jian memucat. Matanya membulat. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Tidak mungkin! Ibumu sakit... dia... dia..."

"DIA DIRACUN," teriak Mei Lan, suaranya menggelegar di tengah suara hujan. "Dan aku adalah orang yang memberinya racun itu. Aku yang merencanakan semuanya. Aku yang MEMBALAS dendam."

Hujan semakin deras, seolah langit pun menangisi takdir mereka. Mei Lan menatap Jian, matanya berkilat dengan api amarah dan kepuasan.

Dan saat itu, Jian menyadari satu hal: Semua kejadian ini... semua penderitaannya... semua ini adalah bagian dari rencana yang lebih besar. Sebuah rencana yang dimulai jauh sebelum pengkhianatan terjadi, dan diatur oleh seseorang yang paling dia cintai.

You Might Also Like: Drama Abiss Langit Yang Menyaksikan

OlderNewest

Post a Comment