Ia Menatapku Seolah Tak Kenal, Padahal Aku Pernah Jadi Dunianya
Embun pagi merayapi kelopak mawar di taman belakang. Wanginya menusuk kalbu, mengingatkanku pada senyumnya yang dulu, sebelum kabut kebohongan menyelimuti segalanya. Dulu, matanya yang bagai rembulan itu hanya tertuju padaku. Dulu, aku adalah dunianya. Sekarang? Ia menatapku seolah aku hanyalah debu yang menempel di sepatunya.
Namanya Lin Wei, seorang ahli waris keluarga Zhao yang disegani. Aku, Mei Hua, hanyalah seorang gadis biasa yang terjerat dalam pesonanya yang memabukkan. Kami bertemu di musim semi, di bawah pohon sakura yang tengah bermekaran. Cintanya terasa begitu murni, begitu abadi. Ia berjanji akan membawaku bersamanya, melindungiku dari segala kejamnya dunia.
Namun, dunia Lin Wei tak seindah pohon sakura. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan rahasia kelam. Keluarga Zhao, dengan segala intrik dan ambisinya, tak akan pernah menerima wanita sepertiku. Mereka menjodohkannya dengan putri keluarga Zhang, demi memperkuat kekuasaan.
Lin Wei memilih kebohongan. Ia menikahi putri Zhang. Ia menyangkal cintanya padaku. Ia menghapusku dari ingatannya.
Aku menyaksikan pernikahannya dari kejauhan, hatiku hancur berkeping-keping. Air mata membasahi pipiku, namun aku berjanji pada diriku sendiri: aku akan mencari kebenaran, betapapun menghancurkannya.
Bertahun-tahun berlalu. Aku bekerja keras, mempelajari segala hal tentang keluarga Zhao, tentang intrik bisnis mereka, tentang dosa-dosa tersembunyi mereka. Aku menyamar, membaur, menjadi bayangan yang mengintai di balik layar.
Akhirnya, aku menemukan kebenaran yang selama ini disembunyikan. Keluarga Zhao terlibat dalam praktik korupsi dan pencucian uang. Lin Wei, meskipun terlihat sebagai pangeran yang sempurna, ternyata terlibat jauh dalam kejahatan itu.
Kesempatan itu datang. Dengan informasi yang kumiliki, aku melaporkan keluarga Zhao ke pihak berwajib. Skandal itu meledak, mengguncang seluruh negeri. Reputasi mereka hancur berkeping-keping. Bisnis mereka diinvestigasi.
Lin Wei, yang kini menjadi tahanan, menatapku dengan pandangan kosong. Ia masih tampan, namun senyumnya telah hilang, digantikan oleh kepahitan.
"Mei Hua?" bisiknya, suaranya serak. "Kau... kau yang melakukan ini?"
Aku tersenyum. Senyum yang tenang, senyum yang mematikan. "Ya, Lin Wei. Akulah yang melakukan ini. Kau pernah menghancurkan duniaku. Sekarang, giliranmu merasakan kehancuran yang sama."
Ia memandangku dengan tatapan yang tak kupahami. Apakah itu penyesalan? Apakah itu kebencian? Aku tak peduli. Balas dendamku telah usai.
Saat aku berbalik dan melangkah pergi, aku mendengar ia berbisik, "Aku... selalu mencintaimu."
Aku tak menoleh. Aku tahu, kata-katanya hanyalah kebohongan lain.
Balas dendam adalah hidangan yang paling lezat ketika disajikan dingin. Seperti senyum terakhirku padanya.
Dan senyum itu, adalah awal dari akhir segalanya.
Apakah kebenaran selalu membebaskan, atau justru menjebak dalam labirin penyesalan tanpa akhir?
You Might Also Like: Reseller Kosmetik Supplier Skincare
Post a Comment