Cerpen Keren: Aku Berdoa Agar Kau Berhenti Mencintaiku, Tapi Diam-diam Aku Takut Doaku Dikabulkan

Hujan menggigil membasahi Kota Tua, persis seperti hatiku ketika pertama kali melihatnya lagi. Li Wei. Bayangan masa lalu kami menari-nari di balik tirai air, kenangan manis yang kini terasa seperti pecahan kaca menusuk dada. Aku berdiri di bawah naungan atap sebuah kedai teh usang, menyaksikan siluetnya memasuki galeri seni di seberang jalan. Lentera merah yang nyaris padam bergoyang tertiup angin, meniru goyahnya keyakinanku.

Dulu, Li Wei adalah matahariku. Cahayanya menghangatkan, senyumnya menenangkan. Tapi, matahari itu kemudian membutakan mataku dengan debu pengkhianatan. Aku berdoa setiap malam, "Biarkan aku berhenti mencintainya." Namun, diam-diam, aku takut doaku dikabulkan. Karena tanpa rasa sakit ini, aku akan kehilangan jejaknya, jejak orang yang pernah menjadi separuh jiwaku.

Sudah lima tahun. Lima tahun aku hidup dalam bayang-bayang luka yang ia torehkan. Ia tampak bahagia, sukses, berdiri tegak di atas puing-puing hatiku. Sementara aku… Aku hanya seorang pengamat, seorang hantu yang terus menghantuinya dengan ingatan yang sengaja kulestarikan.

Di galeri seni itu, lukisan-lukisan Li Wei dipajang dengan megah. Karya-karya yang katanya terinspirasi dari cinta yang hilang. Cinta? Ia menyebutnya cinta? Aku tertawa hambar. Bagiku, lukisan-lukisan itu adalah MONUMEN KEBOHONGANNYA.

Malam itu, aku menemuinya di pelabuhan. Hujan semakin deras, menyamarkan air mata yang tak bisa lagi kubendung. Wajahnya pucat, terkejut melihatku.

"Apa yang kau inginkan, Zhao Mei?" tanyanya dengan suara bergetar.

Aku tersenyum. Senyum yang telah kulatih selama bertahun-tahun, senyum yang menyembunyikan RANCANGAN TERAKHIR yang telah kurajut dengan sabar.

"Balas dendam," bisikku. Suaraku tenggelam dalam deru ombak dan tangis langit.

Cahaya dari dermaga memantul di matanya, memperlihatkan ketakutan yang nyata. Ia mencoba meraihku, tapi aku menghindar.

"Kau pikir aku menderita selama ini?" tanyaku, menatapnya dengan dingin. "Kau salah, Li Wei. Penderitaanmu… BARU SAJA DIMULAI."

Ia terhuyung mundur, menyadari bahwa permainanku jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Selama ini, ia pikir aku hanya korban yang meratapi cintanya yang hilang. Padahal, aku adalah arsitek kehancurannya.

Aku berbalik, meninggalkan Li Wei yang terpaku di bawah derasnya hujan. Bayanganku memanjang di atas dermaga, menyatu dengan bayang-bayang masa lalu.

Dan ketika aku pergi, aku tahu… RAHASIA KEMATIAN ADIKNYA…

You Might Also Like: Agen Kosmetik Bimbingan Bisnis Online

Post a Comment