Cerita Populer: Aku Berdiri Di Antara Dua Pasukan, Tapi Hanya Namamu Yang Kupilih

## Aku Berdiri di Antara Dua Pasukan, Tapi Hanya Namamu yang Kupilih Debu mengepul. Aroma darah dan besi menusuk hidung, menyengat lebih tajam dari janji yang kau khianati. Di hadapanku, lautan wajah berhelm baja, tombak terhunus, siap mengoyak. Pasukan Han di sebelah kiri, pasukan Zhao di sebelah kanan. Dan aku? Aku berdiri di tengah, tepat di garis perpecahan, di jurang yang menganga antara kesetiaan dan **CINTA**. Dulu, sebelum jubah perang ini terasa seperti kurungan, sebelum pedang ini menjadi perpanjangan amarah, aku adalah *Lin Yue*, gadis yang kau janjikan bulan dan bintang. Kau, Zhao Yunlan, pangeran Zhao yang penuh pesona, membisikkan sumpah abadi di bawah pohon *mei* yang mekar. "Lin Yue, tahta bukan apa-apa tanpamu di sisiku. Bersabarlah, setelah perang ini usai, aku akan menjemputmu dan kita akan memerintah bersama, selamanya." Kata-kata itu bagai madu, menutupi pahitnya kenyataan. Bahwa aku, putri Han, adalah bidak dalam permainan kekuasaan. Bahwa cintamu, ternyata, hanya strategi. Sekarang, di tengah medan perang yang mengamuk, mataku menemukanmu. Kau menunggangi kudamu, gagah perkasa dalam zirah emas. Tatapan kita bertemu, sedetik singkat yang terasa seperti keabadian. Ada apa di matamu itu, Yunlan? Penyesalan? Kerinduan? Atau hanya refleksi dari ambisimu yang membara? Aku ingat malam itu, ketika utusan Zhao tiba di istana Han. Membawa ultimatum. Menuntut penyerahan wilayah. Kau, *KAU*, Yunlan, yang mengirim mereka. Lalu, berita itu datang. Kau menikahi putri mahkota Wei, aliansi strategis untuk memperkuat posisimu. Hatiku hancur berkeping-keping. Setiap sumpah, setiap sentuhan, setiap bisikan cinta, terasa seperti duri yang menusuk jantungku. Dulu, aku akan berlari kepadamu, memohon penjelasan, meminta maaf bahkan untuk dosa yang tidak kuperbuat. Dulu, aku akan memilih cintamu di atas segalanya. Tapi **dulu** sudah lama berlalu. Sekarang, aku hanya Lin Yue, jenderal Han, yang memimpin pasukan melawanmu. Aku menarik napas dalam-dalam. Udara terasa berat, bercampur aroma kematian dan pengkhianatan. "Pasukan Han!" seruku, suaraku menggema di antara hiruk pikuk pertempuran. "Serang!" Tombak beradu. Pedang berdenting. Teriakan kesakitan memecah keheningan. Aku mengangkat pedangku, mengarahkannya padamu, Yunlan. Bukan dengan amarah, bukan dengan kebencian, tapi dengan ketegasan yang dingin. Kau membalas tatapanku. Ada kesedihan yang mendalam di sana, tapi sudah terlambat. Jauh terlambat. Aku tidak membunuhmu di medan perang, Yunlan. Itu akan terlalu mudah, terlalu sederhana. Namun, beberapa bulan kemudian, ketika pasukanmu menang, ketika tahta Zhao akhirnya menjadi milikmu, istri Wei-mu, putri mahkota yang kau nikahi demi kekuasaan, tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal dunia. Penyakitnya aneh, mematikan, dan tidak dapat disembuhkan. Rumor beredar, tentu saja. Bahwa dia diracun. Bahwa ada tangan yang tersembunyi di balik tragedi itu. Tapi, siapa yang bisa membuktikan apa pun? Kau memerintah, Yunlan. Kaya, berkuasa, tapi sendiri. ***Aku memilih namamu, Yunlan, dan aku memilih untuk memastikan kau mengingatnya, selamanya.*** Cinta memang buta, tapi *balas dendam melihat dengan sangat jelas*.
You Might Also Like: World War Ii Military History Magazine

OlderNewest

Post a Comment