Harus Baca! Aku Terlahir Lagi Hanya Untuk Mengulang Kesalahan Yang Sama

Baiklah, ini dia cerita pendek bergaya dracin dengan suasana lirih dan penuh penyesalan, sesuai permintaanmu: **Terlahir Kembali, Kesalahan yang Sama** Dentingan *guqin* memecah keheningan malam. Melodi yang lirih, mengalun dari taman belakang kediaman keluarga Lin. Di bawah rembulan pucat, aku duduk bersimpuh, jari-jariku menari di atas senar, menciptakan simfoni kepedihan. Ini bukan pertama kalinya aku merasakan sakit yang *menusuk* ini. Ini... entah ke berapa kalinya aku terlahir kembali. Setiap reinkarnasi, wajahnya selalu sama: Lin Wei, tunanganku. Senyumnya, binar matanya, kehangatan tangannya... semuanya sama. Dan setiap kali itu pula, dia mengkhianatiku. Selalu dengan wanita yang sama pula: Bai Lian, sahabatku sejak kecil. Orang-orang menganggapku lemah. Bodoh. Menerima pengkhianatan tanpa perlawanan. Mereka tidak tahu. Mereka tidak tahu rahasia yang kupendam dalam-dalam. Rahasia yang terlalu *BERBAHAYA* untuk diungkapkan. Aku bukan Lin Mei. Aku adalah reinkarnasi Dewi Bulan, yang dihukum untuk menyaksikan pengkhianatan abadi, karena melanggar sumpah untuk tidak mencampuri urusan dunia fana. Jika aku mengungkap identitasku, atau melakukan tindakan balas dendam secara langsung, kekuatan dewa akan diambil dariku, dan jiwaku akan hancur selamanya. Karena itulah aku memilih diam. Bukan karena lemah, tapi karena takdir yang mengikatku. Namun, ada satu hal yang berbeda di kehidupan ini. Sebuah *misteri* kecil yang mengganggu. Setiap malam, aku bermimpi tentang sebuah lukisan. Lukisan kuno yang menggambarkan seorang wanita dengan gaun bulan sabit, berdiri di depan pohon sakura yang mekar sempurna. Lukisan itu terasa begitu familiar, seolah... seolah aku pernah melihatnya sebelumnya. Semakin lama, mimpi itu semakin jelas. Aku bisa melihat detail-detail lukisan itu: sapuan kuas, warna-warna yang memudar, dan... sebuah tulisan kecil di sudut kanan bawah. Tulisan yang selalu kabur di mimpi-mimpiku sebelumnya, kini terbaca jelas: *“Jangan lupakan janji kita, Mei.”* "Mei?" Akhirnya, aku mengerti. Lukisan itu bukan sekadar lukisan. Itu adalah *petunjuk*. Petunjuk tentang masa laluku yang sebenarnya, sebelum aku menjadi Dewi Bulan. Petunjuk tentang perjanjian yang kulupakan. Bai Lian, sahabatku... dia bukan hanya sahabat. Dia adalah reinkarnasi dari *iblis* yang kubunuh di kehidupan lampau. Janji yang kulupakan adalah janji untuk tidak membiarkannya bangkit kembali. Lin Wei... dia bukan hanya tunangan yang mengkhianatiku. Dia adalah *kunci*. Kunci untuk mematahkan kutuk abadi ini. Pengkhianatannya adalah jalan bagiku untuk melepaskan diri dari takdir yang mengikat. Malam itu, aku berdiri di bawah pohon sakura, di tempat yang sama dengan yang ada di lukisan. Bai Lian datang, dengan senyum kemenangan di wajahnya. Lin Wei berada di belakangnya, tatapannya kosong dan hampa. "Kau akhirnya mengerti, Mei," desis Bai Lian. "Kau tidak bisa melawan takdir." Aku tersenyum pahit. "Kau salah. Takdirku... ada di tanganku sendiri." Aku tidak mengangkat tangan. Aku tidak mengucapkan mantra. Aku hanya membiarkan takdir melakukan tugasnya. Bai Lian, yang selama ini mengendalikan Lin Wei, tiba-tiba kehilangan kendali. Lin Wei, yang selama ini menjadi boneka, akhirnya sadar. Dengan tatapan penuh penyesalan, Lin Wei menatap Bai Lian. Lalu, tanpa ragu, dia menusuk jantungnya sendiri dengan belati yang tersembunyi di balik jubahnya. Bai Lian menganga kaget. Kekuatan iblis dalam dirinya menghilang. Jiwanya hancur berkeping-keping. Kutuk abadi itu... *patah*. Aku terbebas. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan balas dendam. Hanya dengan membiarkan kebenaran terungkap, dan membiarkan takdir berbalik arah. Lin Wei jatuh ke tanah, menghembuskan napas terakhirnya. Dia telah menebus kesalahannya. Dia telah membebaskanku. Aku menatap langit malam. Bintang-bintang bersinar lebih terang dari sebelumnya. Beban berat yang selama ini membebani pundakku akhirnya terangkat. Aku bukan lagi Dewi Bulan yang terhukum. Aku hanya... Mei. Namun, kebebasan ini terasa pahit. Aku telah kehilangan segalanya. Kekuatan dewa, sahabat, tunangan... semuanya lenyap. Aku berbalik, meninggalkan taman itu. Meninggalkan kenangan yang akan menghantuiku selamanya. Mungkin... mungkin aku tidak akan pernah bisa mencintai lagi. … dan mungkin, setelah ini, aku akan terlahir kembali dengan *KEKOSONGAN* yang tak terisi.
You Might Also Like: 129 Cache Control No Store No Cache

OlderNewest

Post a Comment