Kau Mengkhianati Aku dengan Tenang, Seolah Cinta Tak Pernah Berarti
Bagian 1: Bulan di Atas Sungai Kenangan
Di tepian Sungai Kenangan, di antara dunia manusia dan dunia roh, lentera-lentera kertas menyala dengan gelap. Setiap lentera membawa doa yang terucap lirih, janji yang patah, dan kenangan yang memudar. Aku, Lin Mei, berdiri di sana, roh yang baru terbangun, tanpa ingatan akan hidupku sebelumnya, kecuali satu nama yang terukir dalam hatiku: Wei.
Bulan purnama menggantung di atas sana, SAKSI bisu dari segala rahasia. Konon, bulan mengingat semua nama, semua cinta, semua pengkhianatan. Bayangan-bayangan di sekitarku berbisik, suaranya serak dan MENCEKAM, menceritakan kisah-kisah yang tersembunyi di balik kabut dunia roh. Mereka bilang, kematianku bukanlah akhir, melainkan AWAL dari takdir yang lebih besar.
"Kau dibunuh," bisik sebuah bayangan, suaranya bagai hembusan angin dingin. "Dan dia... Wei, dia tahu."
Hatiku mencelos. Wei, pria yang kucintai, pria yang kutitipkan seluruh jiwaku. Mungkinkah?
Di dunia manusia, aku adalah seorang putri dari kerajaan yang makmur. Wei, seorang cendekiawan muda dengan mata setajam elang dan senyum yang mampu meluluhkan hati. Kami berjanji untuk saling mencintai sampai akhir hayat. Namun, suatu malam, di tengah badai, aku ditemukan tewas di taman istana. Wei menangis di sampingku, bersumpah akan membalas dendam.
Sekarang, di dunia roh, aku bertanya-tanya... Balas dendam pada siapa?
Bagian 2: Jejak Pengkhianatan di Dunia Manusia
Aku memutuskan untuk kembali ke dunia manusia, sebagai roh yang tak terlihat. Aku mengikuti Wei, menyaksikan setiap langkahnya. Dia telah menjadi penasihat utama kerajaan, kekuatannya tak tertandingi. Dia memerintah dengan tangan besi, tapi matanya selalu terlihat kosong, seolah dia sedang mencari sesuatu yang hilang.
Aku melihatnya bertemu dengan seorang wanita, seorang penyihir cantik dengan kekuatan gelap. Mereka berbicara dengan suara pelan, merencanakan sesuatu yang jahat. Aku mendengar mereka menyebutkan sebuah nama, nama yang membuat darahku membeku: Pangeran Zhao.
Pangeran Zhao adalah musuh bebuyutan kerajaanku. Dia selalu menginginkan tahta, dan dia tak segan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Mungkinkah... Wei bekerja sama dengan Pangeran Zhao?
Aku mengumpulkan petunjuk, potongan-potongan puzzle yang tersebar di dua dunia. Aku menemukan surat-surat rahasia, artefak sihir yang tersembunyi, dan saksi mata yang ketakutan. Semuanya menunjuk ke satu arah: Wei mengkhianatiku. Dia membunuhku untuk membantu Pangeran Zhao merebut tahta.
Tapi mengapa?
Bagian 3: Kebenaran yang Memilukan
Akhirnya, aku menemukan jawabannya. Wei bukanlah cendekiawan biasa. Dia adalah seorang agen ganda, dikirim oleh Kerajaan Selatan untuk menghancurkan Kerajaanku dari dalam. Dia menggunakan cintaku sebagai senjata, memperdayaku agar aku lengah. Dia mencuri informasi rahasia, melemahkan pertahanan istana, dan akhirnya, membunuhku.
Semua kenangan indah kami hanyalah kebohongan. Setiap ciuman, setiap pelukan, setiap bisikan cinta... semuanya palsu. Hancur sudah hatiku, berkeping-keping menjadi debu.
Aku berhadapan dengannya, di tengah badai petir yang dahsyat. Dia terkejut melihatku, rohnya berdiri di hadapannya. Dia menyangkal semuanya, tapi matanya tak bisa berbohong.
"Aku melakukannya untuk kerajaanku," katanya, suaranya bergetar. "Aku tidak punya pilihan."
"Kau punya pilihan," jawabku, suaraku dingin dan penuh amarah. "Kau bisa memilih cinta. Tapi kau memilih kekuasaan."
Pertempuran pun terjadi. Aku, roh yang dipenuhi amarah dan kesedihan, melawan Wei, pria yang kucintai dan kubenci sekaligus. Kami bertarung dengan sihir dan pedang, dengan air mata dan kebencian. Pada akhirnya, aku berhasil mengalahkannya.
Saat dia terbaring tak berdaya di tanah, aku bertanya kepadanya: "Apakah kau pernah mencintaiku?"
Dia tersenyum pahit. "Cinta adalah kelemahan, Lin Mei. Dan aku tidak pernah lemah."
Aku mengangkat pedangku, siap untuk mengakhiri hidupnya. Tapi kemudian, aku melihat sesuatu di matanya, sebuah kilatan penyesalan yang mendalam.
Aku menurunkan pedangku. Aku tidak bisa membunuhnya. Cintaku padanya mungkin palsu, tapi kebencianku pun terasa hampa.
Aku meninggalkannya di sana, di tengah badai. Biarkan takdir yang menghukumnya.
Aku kembali ke dunia roh, membawa bersamaku luka yang tak akan pernah sembuh. Aku mengerti sekarang, mengapa aku dibunuh. Kematianku bukanlah akhir, melainkan awal dari takdirku sebagai PENJAGA KESEIMBANGAN antara dunia manusia dan dunia roh.
Lentera-lentera di Sungai Kenangan menyala lebih terang, seolah menyambutku kembali. Bulan purnama tersenyum kepadaku, seolah menghiburku. Bayangan-bayangan berbisik, menceritakan kisahku, kisah cinta dan pengkhianatan.
Dan aku tahu, aku akan selalu mengingatnya. Aku akan selalu mengingat Wei, pria yang mengkhianatiku dengan tenang, seolah cinta tak pernah berarti.
Bagian 4: Siapa yang Mencintai? Siapa yang Memanipulasi?
Kebenaran yang sebenarnya lebih gelap dari yang kubayangkan. Penyihir yang bekerja sama dengan Wei bukanlah sekutu, melainkan DALANG di balik segalanya. Dia adalah keturunan dari Klan Bayangan, yang memiliki kemampuan untuk memanipulasi takdir dan merasuki hati manusia.
Dia menggunakan Wei sebagai pion, menanamkan ilusi cinta padaku, dan memaksanya untuk membunuhku. Tujuannya adalah untuk membuka gerbang antara dunia manusia dan dunia roh, agar Klan Bayangan bisa menguasai kedua dunia.
Ternyata, Wei tidak pernah mencintaiku, tapi dia juga tidak sepenuhnya bersalah. Dia adalah korban dari manipulasi yang kejam. Cintanya yang palsu ditanamkan, perasaannya dipaksa.
Lalu, siapa yang mencintai? Siapa yang memanipulasi? Jawabannya rumit, terjalin dalam jaringan kebohongan dan takdir.
Penyihir itu yang memanipulasi. Wei, yang dimanipulasi untuk berpikir dia mencintai dan kemudian mengkhianati. Aku, yang dicintai dengan palsu, dan akhirnya menemukan kebenaran yang memilukan.
Epilog:
Aku menghadapi penyihir itu, dalam pertarungan terakhir yang menentukan nasib kedua dunia. Aku menggunakan kekuatan yang kutemukan di dalam diriku, kekuatan yang lahir dari cinta yang hilang dan kebencian yang mendalam. Aku mengalahkannya, dan menutup gerbang antara dunia manusia dan dunia roh.
Namun, kemenangan ini terasa pahit. Wei, meskipun dia telah dibersihkan dari pengaruh Klan Bayangan, tetaplah seorang pengkhianat. Dia dijatuhi hukuman, dan diasingkan ke ujung dunia.
Aku berdiri di tepian Sungai Kenangan, menatap bulan purnama. Aku mengerti sekarang, cinta bukanlah segalanya. Kadang-kadang, pengkhianatan adalah takdir. Kadang-kadang, kebohongan adalah kebenaran.
"Apakah kamu akan memaafkanku, Lin Mei?" bisik sebuah suara di belakangku.
Aku berbalik. Wei berdiri di sana, matanya penuh penyesalan.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, dan kemudian, aku berbalik dan berjalan pergi.
Di antara bayang-bayang dan bulan, takdir abadi diukir.
You Might Also Like: 60 10 Tips To Build Student Rapport Top
Post a Comment