Cerpen Terbaru: Surat Yang Tak Pernah Terkirim Ke Pangeran Pengkhianat

**Surat yang Tak Pernah Terkirim ke Pangeran Pengkhianat** Angin musim gugur mencambuk pipiku, serupa cambuk yang tak henti-hentinya menghantui ingatanku. Istana Chang'an bergemerlapan di kejauhan, palsu seperti senyum Pangeran Li Wei. Dulu, aku menyebutnya Wei-ge. Dulu, sebelum _RAHASIA_ itu merobek persaudaraan kami menjadi serpihan yang tak mungkin dipulihkan. Kami tumbuh bersama di bawah naungan pohon sakura yang sama, aku – Mei Lin – seorang putri selir yang terpinggirkan, dan dia – Li Wei – pewaris takhta yang dipuja. Kami berbagi mimpi, ambisi, bahkan kekhawatiran. Aku adalah bayangannya, kepercayaannya, senjatanya. Aku menyusun strategi untuknya, merangkai kata-kata yang meyakinkan para bangsawan, membersihkan jalan menuju kekuasaan. Aku mengira dia mempercayaiku. Bodohnya aku. "Lin-er," desisnya suatu senja, rambutnya tertiup angin, matanya setajam elang. "Saat aku menjadi Kaisar, kau akan menjadi tangan kananku. Kekuatan kita tak tertandingi." Aku tersenyum, kebahagiaan menyelimutiku seperti sutra termahal. _Kebahagiaan semu_. Kemudian, surat itu datang. Sebuah surat kaligrafi halus, bertinta merah delima, ditujukan kepada Kaisar dari Jenderal Zhao. Isinya? Pengkhianatan. Jenderal Zhao, ayahku, dituduh berkomplot melawan Kaisar. Li Wei memberikannya padaku. Senyumnya dingin, mata safirnya tak menunjukkan emosi. "Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan, Lin-er?" Saat itu, aku mengerti. Bukan ayahku yang berkhianat. _Li Wei yang menjebaknya_. Ayahku adalah batu sandungan terakhirnya menuju takhta. Dan aku, tanpa sadar, menjadi alatnya. Aku menulis surat balasan yang memvonis mati ayahku. Setiap goresan tinta terasa seperti mengiris jantungku sendiri. Aku mengkhianati darah dagingku sendiri demi seorang pangeran yang… _tidak pernah benar-benar mencintaiku_. Bertahun-tahun berlalu. Li Wei naik takhta, menjadi Kaisar yang kejam dan berkuasa. Aku? Aku menjadi bayangan yang lebih kelam. Penasihatnya. Pembunuh bayangannya. Aku hidup di dalam istana yang dibangun di atas darah ayahku, di atas kepercayaanku yang hancur lebur. Aku merencanakan pembalasanku dengan cermat. Bertahun-tahun aku mengumpulkan bukti, membisikkan keraguan ke telinga para bangsawan, menabur benih pemberontakan. Aku akan menghancurkan kerajaannya, membawanya ke jurang kehancuran seperti yang dilakukannya padaku. "Wei-ge," kataku padanya di malam bulan purnama, racun mematikan beraroma almond memenuhi cangkir anggurnya. "Kau tahu, aku selalu mengagumi ambisimu." Dia tertawa, tawa yang membuat darahku mendidih. "Kau adalah aset berharga, Lin-er. Loyalitasmu… sangat mengharukan." "Loyalitas?" Aku tersenyum sinis. "Aku selalu setia pada _kebenaran_, Wei-ge. Kebenaran bahwa kaulah pengkhianat sebenarnya." Kebenaran terungkap. Para bangsawan yang telah kutanamkan keraguan berbalik melawannya. Pemberontakan berkobar di setiap sudut kerajaan. Li Wei, sang Kaisar, kehilangan segalanya. Kekuasaan. Kekayaan. Bahkan, rasa hormat. Di detik-detik terakhirnya, dia menatapku, matanya dipenuhi ketakutan dan… pengakuan? "Kau… kau tahu selama ini?" bisiknya, suaranya serak. Aku mengangguk, air mata mengalir di pipiku. "Aku selalu tahu, Wei-ge. Tapi balas dendam terasa jauh lebih manis daripada pengampunan." Dia roboh, racun membakar tubuhnya. Istana Chang'an, yang dulu gemerlapan, kini terbakar. Aku telah menghancurkannya. Aku telah membalaskan dendam ayahku. Namun, kemenangan terasa hampa. Sepi. Aku berlutut di sampingnya, memegang tangannya yang dingin. "Aku… aku seharusnya tidak pernah mencintaimu." (Mengapa kau melakukan ini padaku, Wei-ge?)
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Reseller

OlderNewest

Post a Comment