**Aku Adalah Lagu yang Hanya Ia Nyanyikan Saat Mabuk** Kabut lavender menyelimuti Kota Terlarang, sama kelabunya dengan kenangan yang kami bagi. Jing dan aku. Sejak kecil, kami seperti dua sisi koin perak – berkilau bersama, namun tak pernah benar-benar menyatu. Aku, Jinghua, si jenius musik yang hidup dalam bayang-bayang keanggunannya. Dia, Jing, si pewaris takhta yang dikutuk oleh ambisinya sendiri. "Kakak Jinghua," desisnya suatu malam di bawah pohon plum yang mekar, bibirnya berlumuran arak beras. "Kau tahu... kau satu-satunya lagu yang benar-benar kumengerti." Kata-katanya bagai belati berlapis madu. Dulu, aku menelannya mentah-mentah. Kini, aku tahu itu hanya kebohongan yang terucap saat mabuk. Kami tumbuh di bawah pengawasan Kaisar yang dingin, ayah kami. Jing dipersiapkan untuk memimpin, aku untuk menghiburnya. Musikku adalah alatnya, kesetiaanku adalah jaminan. Tapi di balik senyum simpul Jing, aku merasakan arus bawah yang berbahaya. Ambisi membutakan, dan kekuasaan adalah candu yang paling memabukkan. Malam itu, ketika Kaisar jatuh sakit, Jing mendekatiku. Matanya berkilat seperti obsidian. "Jinghua, kau harus membantuku. Racunnya... terlalu lambat." ***RACUN!*** Aku tersentak. Racun? Jadi, dia meracuni ayah kami? "Ayah akan mati cepat atau lambat," lanjutnya, suaranya serak. "Tapi jika aku mengambil alih sekarang, aku bisa menyelamatkan kerajaan ini dari kehancuran. Kau mengerti, bukan?" Apakah aku mengerti? Ya, aku mengerti. Aku mengerti bahwa cintanya padaku, persahabatannya denganku, hanyalah topeng untuk menutupi **KEHAUSAN** yang tak terpadamkan akan kekuasaan. Aku membantu Jing. Aku memberinya ramuan yang mempercepat prosesnya, ramuan yang kucuri dari apoteker istana. Aku melakukannya bukan karena aku setuju dengan tindakannya, tapi karena... karena aku mencintainya. ***CINTA*** bodoh yang membutakan. Jing menjadi Kaisar. Dia memerintah dengan tangan besi, membangun kerajaan yang kuat dan makmur. Aku menjadi komposer istananya, pencipta lagu-lagu kemenangannya. Di mata dunia, kami adalah saudara yang sempurna, sekutu yang tak terpisahkan. Tapi di balik tirai istana, aku hidup dalam neraka yang sunyi. Setiap nada yang kurangkai adalah pengkhianatan pada diriku sendiri, setiap melodi adalah jeritan bisu dari hati yang hancur. Bertahun-tahun berlalu. Jing menikahi selir-selir cantik, melahirkan pewaris takhta. Aku? Aku terikat padanya, terikat oleh rahasia kelam yang kami bagi. Suatu malam, ketika Jing kembali ke kamarku, mabuk seperti biasa, dia mulai menyanyikan lagu lamaku, lagu yang pernah kutulis untuknya saat kami masih kecil. Suaranya sumbang dan kacau, tapi matanya menatapku dengan tatapan yang... hampa. "Jinghua," gumamnya. "Kau tahu... aku selalu takut padamu. Kau terlalu pintar. Kau tahu terlalu banyak." Kata-katanya menghantamku seperti petir. Ketakutan? Jadi, selama ini dia... takut padaku? "Kau yang meracuni ayah, bukan?" tanyaku, suaraku tenang tapi mematikan. Dia tertawa. Tawa yang mengerikan dan kosong. "Aku? Tentu saja tidak. Kau yang melakukannya, Jinghua. Kau yang memberiku racun itu." Jantungku berhenti berdetak. Dia membalikkan semuanya. DIA MENGKHIANATIKU. "Kau ingat, Jinghua? Kau bersumpah setia padaku. Kau bersedia melakukan apa saja untukku. Kau... adalah lagu yang hanya kunyanyikan saat mabuk. Tidak ada yang percaya pada orang mabuk, bukan?" Kebencian membakar nadiku. Aku mengambil pisau perak yang selalu kusimpan di balik bajuku. Jing tersentak, matanya membulat karena ketakutan. "Sudah terlambat, Jing," desisku. "Lagu ini... akan berakhir sekarang." Pisau itu menembus jantungnya. Dia tersungkur ke lantai, darah membasahi jubah brokatnya. Aku berdiri di sana, di tengah lautan darah, menatap tubuh Jing yang tak bernyawa. Aku bukan lagi Jinghua, si jenius musik. Aku hanyalah pembunuh, terikat selamanya pada rahasia yang menghancurkan kami berdua. Kebenaran terungkap, pahit dan kejam. Jing, bukan aku, yang merencanakan pembunuhan Kaisar. Dia menggunakan aku, cinta bodohku, untuk menutupi kejahatannya. Dia merencanakan segalanya, bahkan kematiannya sendiri, untuk memastikan aku yang disalahkan. Aku melangkah keluar dari kamar itu, meninggalkan mayat Jing dan semua kebohongannya. Di luar, fajar mulai menyingsing. Kota Terlarang bermandikan cahaya merah jambu, seolah-olah langit pun berduka atas tragedi ini. Aku berjalan menuju penjara, siap menghadapi hukuman mati. Tapi sebelum aku melangkah melewati gerbang besi itu, aku berbisik, "Lagu ini mungkin berakhir, tapi melodinya... akan terus menghantuimu selamanya..."
You Might Also Like: Distributor Kosmetik Modal Kecil Untung

Post a Comment