## Senyum yang Mengantarku ke Damai **BAB 1: Hujan di Layar Retak** Hujan di luar sama derasnya dengan air mata yang *tak* kutumpahkan. Layar ponselku retak, sama seperti hatiku. Sebuah notifikasi muncul: "Lin Wei Wei menyukai unggahanmu." Jantungku berdebar. Lin Wei Wei. Nama itu, seperti aroma kopi di pagi hari, *membangkitkan* kenangan. Kenangan tentang tawa, janji, dan... kepergian. Kami bertemu di dunia maya, di antara *emotikon* dan pesan singkat. Awalnya hanya obrolan iseng tentang drama Korea favorit, lalu berkembang menjadi diskusi tentang mimpi, ketakutan, dan harapan. Kami menghabiskan berjam-jam *berbicara*, berbagi lagu, dan mengirimkan foto-foto konyol. Dunia kami terasa *sempurna* untuk sesaat. Namun, kesempurnaan itu rapuh. Lin Wei Wei menghilang begitu saja. Tanpa penjelasan. Tanpa *selamat tinggal*. Pesanku hanya dibaca, tanpa balasan. Sisa obrolan kami kini hanyalah *monumen* bisu untuk cinta yang tak sempat bersemi. **BAB 2: Bayangan di Kedai Kopi** Aku berjalan menyusuri jalanan kota yang basah, mencari kehangatan di kedai kopi langganan kami. Aroma kopi robusta menyengat hidungku, membangkitkan ingatan tentang Lin Wei Wei yang selalu memesan latte dengan *extra* whipped cream. Di pojok kedai, seorang wanita duduk sendirian. Rambutnya panjang, diikat asal-asalan. Dari belakang, dia *mirip* Lin Wei Wei. Aku mendekat, jantungku berdebar kencang. Tapi bukan dia. *Hanya* bayangan. Aku duduk di meja kami dulu, memandangi hujan yang semakin deras. Ponselku berdering. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal: "Dia ada di dekatmu. Perhatikan baik-baik." Siapa ini? Apa yang mereka maksud? *Misteri* ini semakin membuatku gila. **BAB 3: Jejak Digital** Aku memutuskan untuk mencari tahu. Aku mulai *menggali* jejak digital Lin Wei Wei. Akun media sosialnya sunyi senyap. Tak ada unggahan baru, tak ada aktivitas. Seolah dia lenyap dari muka bumi. Namun, aku menemukan sesuatu. Sebuah akun *anonim* yang sering menyukai unggahanku dan mengomentari statusku dengan kalimat-kalimat puitis yang terasa *familiar*. Gaya bahasanya... mirip dengan Lin Wei Wei. Aku mulai mencurigai sesuatu. Apa mungkin Lin Wei Wei bersembunyi di balik akun ini? Apa yang dia sembunyikan? **BAB 4: Kebenaran yang Terungkap** Aku mengirimkan pesan ke akun anonim itu: "Lin Wei Wei, aku tahu itu kamu." Balasan datang *dengan cepat*: "Bagaimana kamu bisa tahu?" Aku membalas: "Aku mengenalmu lebih dari yang kau kira. Aku mengenal setiap *kata*, setiap *emotikon* yang kau gunakan. Apa yang terjadi? Mengapa kau menghilang?" Lin Wei Wei *mengaku*. Dia menceritakan semuanya. Dia sakit parah. Dia tidak ingin aku melihatnya menderita. Dia ingin aku mengingatnya sebagai wanita yang *cantik* dan *ceria*. Hancur hatiku. Semua ini... hanya karena dia *mencintaiku*? **BAB 5: Balas Dendam yang Manis** Lin Wei Wei meminta maaf. Dia bilang dia menyesal telah menghilang tanpa kabar. Dia ingin *bertemu* sekali lagi. Aku *menyetujuinya*. Kami bertemu di taman kota, tempat kami pertama kali bertemu secara langsung. Lin Wei Wei terlihat pucat dan lemah. Namun, senyumnya... masih *sama*. Kami menghabiskan sore itu *bersama*, berbicara, tertawa, dan mengenang masa lalu. Aku tidak marah. Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya ingin bersamanya, menikmati setiap detik yang tersisa. Saat matahari terbenam, Lin Wei Wei memberikan aku sebuah *kotak kecil*. "Bukalah saat aku pergi," katanya. Dia *pergi* malam itu. **BAB 6: Damai** Aku membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah *flash drive* dan sebuah *surat*. Di flash drive, ada sebuah video. Lin Wei Wei menyanyi untukku. Lagunya adalah lagu yang selalu kami nyanyikan bersama. Suaranya *merdu* dan *penuh cinta*. Di surat itu, Lin Wei Wei menulis: "Aku ingin kau bahagia. Aku ingin kau *melupakanku* dan *mencintai* orang lain. Tapi, aku juga ingin kau *ingat* aku. Ingat senyumku. Ingat cinta kita. Itu adalah hadiah terakhirku untukmu." Aku *tersenyum*. Senyum yang tulus, senyum yang *damai*. Aku mengirimkan pesan terakhir ke nomor Lin Wei Wei: "Aku tidak akan pernah melupakanmu." Lalu, aku menghapus semua obrolan kami. Menghapus semua foto. Menghapus semua *kenangan*. Aku memutuskan untuk *pindah* ke kota lain. Memulai hidup baru. *Aku akan selalu mengenang senyummu, Lin Wei Wei. Itu adalah senyum yang mengantarku ke damai.* …Dan dalam diam, hatiku bertanya, apakah aku benar-benar sudah melupakannya?
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Diserang Kambing Simak

Post a Comment