**Surat Itu Membakar Perjanjian Damai, Dan Bersama Abu Itu, Namaku Hilang Dari Ingatanmu** Hujan jatuh di atas makam klan Jiang, bulir-bulirnya menari di atas nisan batu yang dingin, menciptakan melodi sunyi yang mengiris kalbu. Di antara tetesan itu, aku berdiri. Bukan sebagai manusia, tapi sebagai bayangan yang terlalu keras kepala untuk pergi. Dulu, aku adalah Jiang Xiu Lan. Putri kedua klan Jiang, terikat janji pertunangan dengan Li Wei, pewaris klan Li. Perjanjian damai yang harus kubayar dengan kebahagiaanku. Namun, cinta tidak bertanya pada klan, ia tumbuh liar di hatiku untuk orang lain. Seseorang yang tidak mungkin kumiliki. Kebenaran itu terkubur bersamaku, di dalam peti mati yang dihiasi bunga krisan putih. Aku *meninggal* tanpa pernah mengungkapkan isi hatiku. Diracun, kata mereka. Kecelakaan, bisik mereka. Aku tahu kebenarannya. Tapi kebenaran itu kini hanya abu di bibirku. Sekarang, aku kembali. Bukan untuk membalas dendam, meski nafsu itu bergejolak di dalam diriku seperti badai. Aku di sini untuk **kedamaian.** Kedamaian yang dicuri dariku, dari Li Wei, dan dari... dia. Setiap malam, aku melayang di sekitar Paviliun Anggrek, tempat dulu aku dan Li Wei belajar kaligrafi. Bayanganku memantul di kolam teratai yang tenang, seolah mencoba mengingat senyum yang telah lama pudar dari wajahnya. Ia kini diliputi kesedihan, menikah dengan gadis lain, terikat perjanjian yang telah membunuhku. Aku mengamati mereka. Li Wei dan istrinya. Ia sopan, penuh perhatian, tapi matanya kosong. Cinta tidak pernah hadir di sana. Di antara mereka, ada sebuah surat. Tersembunyi di balik gulungan sutra berukir naga. Surat dariku. Surat yang tak pernah kukirim. Surat itu berisi kebenaran. Pengakuan cintaku pada Jiang Yun, saudara sepupu jauhku. Dokter keluarga yang telah merawatku sejak kecil. Cinta yang kurahasiakan rapat-rapat, bahkan dari diriku sendiri. Cinta yang, aku yakini, menjadi alasan kematianku. Aku ingin surat itu dibaca. Aku ingin kebenaran terungkap. Tapi bagaimana caranya? Aku hanya roh, terikat pada dunia fana oleh penyesalan. Suatu malam, ku rasakan angin berbisik, menyentuh rambutku yang tak terlihat. Bulan purnama bersinar terang, menerangi Paviliun Anggrek. Saat itulah, aku melihatnya. Jiang Yun. Ia berdiri di tepi kolam, menatap bayanganku. Matanya penuh kesedihan yang tak terkatakan. Ia tahu. Ia selalu tahu. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba menyampaikan pikiranku. Mendorongnya untuk mencari surat itu. Menyentuh tangannya, meski ia tak bisa merasakanku. Jiang Yun akhirnya menemukan surat itu. Aku melihatnya membacanya di bawah cahaya bulan. Air mata mengalir di pipinya. Ia kemudian melakukan sesuatu yang tak pernah kubayangkan. Ia membakar surat itu. Api menjilat kertas itu, melahap setiap kata yang kutulis. Perjanjian damai klan Li dan Jiang. Pengakuan cintaku. Semuanya menjadi abu. Awalnya, aku marah. Aku ingin berteriak. Tapi kemudian, aku mengerti. Jiang Yun tidak ingin balas dendam. Ia tidak ingin merusak kehidupan Li Wei atau istrinya. Ia hanya ingin melindungi mereka. Melindungi kenangan tentangku. Bersama abu surat itu, namaku hilang dari ingatan Li Wei. Perjanjian damai yang penuh darah itu berakhir dengan sendirinya. Kebencian berhenti mengalir. Aku *tidak* kembali untuk balas dendam. Aku kembali untuk menyaksikan **kedamaian** itu terwujud. Kini, tugasku selesai. Aku bisa pergi. *Aku bisa… tersenyum sekarang.*
You Might Also Like: Dracin Populer Aku Menatap Fotomu Di

Post a Comment