Drama Abiss! Langit Yang Tak Bisa Lupa

**Langit yang Tak Bisa Lupa** Di antara kabut *Zaman Keemasan*, di mana sungai-sungai membelah daratan bagai urat nadi naga purba, berdirilah Paviliun Bulan yang merindukan mentari. Di sanalah aku bertemu dengannya, Putri Bunga Persik, Lin Mei. Rambutnya bagai air terjun sutra malam, matanya kolam mimpi yang tersembunyi di balik kabut tipis. Kami bertemu dalam hening yang lebih dalam dari palung laut, dalam tatapan yang lebih luas dari galaksi. Kata-kata adalah percikan api di tengah hutan belantara rasa, membakar jiwa hingga abu rindu. Setiap malam, di bawah rembulan yang **terlalu** setia, Lin Mei menarikan tarian mawar yang menyayat hati. Setiap putaran, aroma persiknya menyeruak, membelai sanubariku dengan janji dan penyesalan yang tak terucap. Aku, seorang pelukis bayangan, hanya bisa mengabadikannya dalam kanvas-kanvas yang tak pernah selesai, karena keindahan Lin Mei melebihi batas kuas dan pigmen. Waktu adalah pasir yang mengalir di antara jari-jari. Musim semi berganti musim gugur, bunga persik berguguran di atas makam harapan. Kisah kami terjalin dalam mimpi-mimpi opium, dalam syair-syair yang ditulis di atas daun maple yang gugur, dalam ciuman di bawah pohon kamelia yang mekar di tengah badai salju. Namun, ada **tabir** yang tak bisa kutembus. Di balik senyumnya yang memabukkan, tersembunyi kesedihan yang lebih dalam dari jurang neraka. Ia seringkali menghilang, lenyap ditelan kabut pagi, hanya menyisakan aroma persik yang menyesakkan dada. Suatu malam, di puncak Paviliun Bulan, di bawah cahaya rembulan yang paling terang, ia berbisik, "Aku bukan bagian dari dunia ini. Aku adalah *gema* dari masa lalu, lukisan yang terlepas dari kanvasnya, mimpi yang lupa caranya terbangun." Dan kemudian, *pengungkapan* itu datang. Bersamaan dengan hembusan angin yang menggigilkan, aku menemukan sebuah lukisan di loteng paviliun. Lukisan seorang wanita, identik dengan Lin Mei, memegang kuas di tangan. Di kanvasnya, tergambar seorang pria yang... aku. Di bawah lukisan itu, terukir kata-kata: "Dia mencintaiku begitu dalam, hingga menciptakan diriku dari debu dan mimpi." Lin Mei adalah ilusi, manifestasi dari cinta tanpa batas, terlahir dari *kesepian* dan kerinduan seorang pelukis yang telah lama pergi. Aku adalah objek kerinduan abadi, terjebak dalam lukisan yang terwujud menjadi realita yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Air mataku jatuh, membasahi lukisan itu. Keindahan ini, misteri yang terpecahkan, justru menorehkan luka yang lebih dalam dari pedang samurai. Dan di tengah keheningan malam, aku mendengar bisikan dari masa lalu: "Jangan lupakan aku, *kekasihku*…"
You Might Also Like: Perbedaan Sunscreen Mineral Dengan Aloe

OlderNewest

Post a Comment