Baiklah, ini dia kisah pendek dracin berjudul 'Aku Mencintaimu dengan Kejujuran, dan Dibalas dengan Keindahan Dusta': **Latar:** Lorong Istana Qingyun yang sunyi, diterangi hanya oleh lentera-lentera redup. Kabut tipis merayap masuk dari celah jendela, membawa aroma melati dan rahasia yang terpendam. **Karakter:** * Li Wei: Seorang pria yang kembali setelah sepuluh tahun dianggap mati. Wajahnya teduh, menyimpan luka masa lalu. * Permaisuri Lan: Wanita anggun dengan senyum misterius. Di mata banyak orang, dia adalah korban intrik istana. **Kisah:** Kabut bergulung di sekitar kaki Li Wei, saat ia melangkah memasuki lorong. Sepuluh tahun… sepuluh tahun ia menghilang, dianggap gugur dalam perang di perbatasan. Namun, ia kembali. Bukan untuk merebut tahta, melainkan untuk mencari kebenaran. Di ujung lorong, berdiri Permaisuri Lan. Gaun sutranya berwarna nila, kontras dengan kulitnya yang pucat. Senyumnya merekah saat melihat Li Wei. "Wei…" bisiknya, suaranya selembut sutra, namun menusuk tulang. "Kau kembali." "Lan," jawab Li Wei, suaranya parau. "Aku kembali untuk jawaban. Jawaban atas kematian ayahku, dan… *atas kepergianku sendiri*." Permaisuri Lan mendekat, aroma melatinya memabukkan. "Jawaban apa yang kau cari, Wei? Bukankah sudah jelas? Pangeran Zhen yang menginginkan tahta, dan kau adalah penghalangnya." Li Wei mengepalkan tangannya. "Pangeran Zhen hanyalah pion. Ada kekuatan yang lebih besar di belakangnya, Lan. Kekuatan yang *menginginkan* aku mati." Tawa kecil meluncur dari bibir Permaisuri Lan. "Kau terlalu percaya diri, Wei. Kau pikir, aku tahu lebih dari yang seharusnya?" "Aku tahu kau tahu segalanya, Lan. Surat yang dikirimkan ayahku sebelum kematiannya… surat itu menyebut namamu." Permaisuri Lan terdiam. Kabut semakin tebal, menelan lorong dalam kegelapan. Ia mendekat, matanya menatap Li Wei tajam. "Ya, Wei. Aku tahu. Aku tahu segalanya. Termasuk bagaimana caramu, dengan ***naif***, menyerahkan hatimu padaku. Dan betapa mudahnya, aku menggunakan itu untuk *keuntunganku*." Li Wei tertegun. Kebenaran menghantamnya bagai gelombang pasang. Semua selama ini… semua kebaikan, cinta, dan perhatian yang diberikan Permaisuri Lan… hanya *kebohongan*. "Kenapa?" bisik Li Wei, suaranya nyaris tak terdengar. Permaisuri Lan meraih pipi Li Wei, sentuhannya dingin dan tanpa perasaan. "Karena aku menginginkan ini, Wei. Kekuasaan, kendali, dan ***kebebasan***. Dan kau… kau adalah batu loncatan yang sempurna." Ia melepaskan Li Wei, senyumnya kini berubah menjadi seringai yang mengerikan. "Kau kembali mencari kebenaran? Sungguh ironis, karena *kaulah* kebenaran itu sendiri. Kebenaran bahwa ***aku*** yang memegang kendali sejak awal." Li Wei menatap Permaisuri Lan, matanya kosong. Semua pertanyaan akhirnya terjawab. Namun, jawaban itu jauh lebih pahit dari kematian itu sendiri. Di lorong istana yang sunyi, di tengah kabut yang menyesakkan, ia akhirnya mengerti: Cinta yang diberikan dengan kejujuran… dihancurkan oleh keindahan dusta yang begitu **sempurna**. Dan dalam kesunyian yang menyesakkan, Li Wei menyadari: *Korban itu… selalu menjadi dalang di balik layar*.
You Might Also Like: Full Drama Kau Memegang Tanganku Di

Post a Comment