Baiklah, inilah Dracin pendek berjudul "Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus": **Aku Menjadi Virus Cinta Yang Tak Bisa Dihapus Antivirus** Debu berterbangan di Perpustakaan Kuno, mengiringi setiap langkah Lin Yi. Jari-jarinya yang lentik menyusuri rak-rak tinggi, mencari petunjuk… mencari **DIA**. Di kehidupanku sebelumnya, aku adalah seorang tabib istana, ahli racun dan ramuan. Aku mencintai Kaisar, Han Li Wei, dengan segenap jiwa raga. Cintaku **TULUS**, pengabdianku tanpa batas. Namun, pengkhianatan itu… *menusuk lebih dalam dari racun sianida*. Kini, aku terlahir kembali. Lin Yi, seorang programmer jenius di abad ke-21. Dunia yang asing, penuh cahaya dan mesin. Tapi, getaran itu tetap ada. Perasaan *deja vu* menyelimuti setiap kali mataku menangkap sosok CEO perusahaan tempatku bekerja, Han Shao Feng. Wajahnya… nyaris identik dengan Kaisar yang mengkhianatiku. Satu per satu, potongan ingatan berkelebat. Malam berdarah di taman istana, bisikan janji palsu, dan wajah *Wanita* yang berdiri di balik semuanya… Selir Mei Lan. Di kehidupan ini, dia adalah Meilan Zhang, seorang *influencer* cantik dan licik yang selalu menempel pada Han Shao Feng. Aku menyusun rencana. Bukan dengan racun, bukan dengan pedang. Balas dendamku akan lebih *halus*, lebih *mematikan*. Aku menciptakan program, sebuah aplikasi *kencan* yang dipenuhi algoritma cinta yang *salah*. Setiap *bug* adalah ingatan pahitku, setiap *glitch* adalah tetesan air mata pengkhianatan. Aplikasi itu dinamai "Virus Cinta". Ironis, bukan? Han Shao Feng tergila-gila pada aplikasi itu. Dia yakin, di sanalah dia akan menemukan cintanya. Meilan Zhang cemburu, berusaha menghancurkan aplikasi itu, namun sia-sia. "Virus Cinta" *tidak bisa dihapus*, seperti cintaku padanya di masa lalu… atau kebencianku saat ini. Akhirnya, Han Shao Feng bertemu seseorang melalui aplikasi itu. Seorang wanita sederhana, berhati tulus, jauh dari intrik dan kemewahan. Wanita yang… pantas mendapatkan cintanya. Han Shao Feng meninggalkan Meilan Zhang, memilih jalan yang berbeda, jalan yang *seharusnya* dia pilih di kehidupan sebelumnya. Aku tersenyum pahit di balik layar komputernya. Bukan ini yang kuinginkan. Aku hanya ingin dia merasakan sedikit dari sakit hatiku. Tapi, takdir punya caranya sendiri. Aku telah mengubah takdirnya, takdirnya *dan* takdirku. Di suatu malam yang sunyi, di depan layar yang berkedip, Lin Yi berkata pelan, "Seribu tahun mungkin belum cukup untuk membayar hutang darah ini…"
You Might Also Like: 62 Online School Clubs Kindness Club
Post a Comment