Baiklah, ini dia kisah pendek bergaya Dracin berjudul "Aku Menjadi Memo di HP-nya: 'Jangan Hubungi Lagi'": **Babak 1: Simfoni Kebohongan** Dulu, aku adalah melodi di ponselnya. Nada dering yang membuatnya tersenyum. Kini, aku hanya memo—"**JANGAN HUBUNGI LAGI**". Kata-kata yang dingin, setajam es di musim gugur yang menusuk jantungku. Dulu, senyumnya adalah matahari bagiku. Sekarang, aku tahu itu hanyalah ilusi, *fatamorgana* yang menyesatkan di padang gurun kesepian. Dulu, pelukannya adalah rumah. Sekarang, aku merasakan *racun* manis menjalar di setiap sentuhannya. Namaku Anya. Aku seorang desainer interior. Aku terbiasa menciptakan keindahan, namun aku gagal menciptakannya dalam hidupku sendiri. Aku mencintai Li Wei dengan segenap hatiku. Aku memberikan segalanya. Ternyata, segalanya itu tidak cukup. Atau mungkin, terlalu banyak untuknya. **Babak 2: Fragmen Kaca** Aku ingat janjinya. Janji setia, janji selamanya. Sekarang, janji itu hanyalah *belati* yang menghujam ulu hatiku. Aku melihatnya dengan wanita lain. Di restoran favorit kami. Tertawa, berbagi senyum yang dulu hanya untukku. Aku tidak berteriak. Aku tidak menangis. Aku hanya mengumpulkan pecahan hatiku yang berserakan. Aku menyembunyikan luka ini di balik senyum profesional, di balik gaun sutra mahal, di balik elegansi yang menjadi tamengku. Aku **tidak akan** memberinya kepuasan melihatku hancur. Malam itu, hujan turun dengan deras. Seolah langit ikut menangisi pengkhianatanku. Aku berdiri di balkon apartemenku, menyesap teh kamomil. Aku merasa seperti *boneka porselen*, rapuh namun tampak anggun dari kejauhan. **Babak 3: Anggur yang Dibalsem** Aku membalas dendam? Tentu saja. Tapi bukan dengan amarah, bukan dengan teriakan, bukan dengan air mata. Aku membalasnya dengan **kesuksesan**. Aku mengembangkan bisnisku. Namaku terpampang di majalah-majalah ternama. Klien-klienku adalah para konglomerat. Aku membeli apartemen yang lebih mewah, mobil yang lebih mahal, dan pakaian yang lebih indah. Aku melihatnya di sebuah acara gala. Dia mencoba mendekatiku, meminta maaf. Air mata buaya. Aku hanya tersenyum dingin, memberikan anggukan sopan. Dia *terkejut*. Dia tidak menyangka aku akan menjadi seperti ini. Aku tahu, dia akan menyesal. Bukan karena aku membalas dendam, tapi karena dia kehilangan aku. Penyesalan itu akan menghantuinya selamanya. Seperti hantu yang tidak bisa diusir. **Epilog:** Aku kembali ke apartemenku. Sendiri. Di atas meja, ada sebuah memo. Tertulis dengan tinta merah: "Jangan Lupakan Aku". Aku tertawa hambar. Cinta dan dendam… …lahir dari tempat yang **SAMA**.
You Might Also Like: Tips Sunscreen Mineral Untuk Kulit

Post a Comment