Bikin Penasaran: Kau Pergi Membawa Janji, Dan Meninggalkan Aku Bersama Kenangan

## Kau Pergi Membawa Janji, dan Meninggalkan Aku Bersama Kenangan Dedaunan maple menari-nari dalam pusaran angin musim gugur, sama persis seperti saat pertama kali matamu bertemu mataku di bawah pohon itu. Kita masih remaja, polos dan penuh mimpi. Kau berjanji akan selalu bersamaku, *selamanya*. Janji yang terukir di batang pohon maple itu, saksi bisu cinta kita yang *katanya* abadi. Namun, takdir memang gemar mempermainkan manusia. Kau pergi. Bukan karena kematian, bukan karena jarak, tapi karena ambisi. Mimpi-mimpimu yang lebih besar, kata-katamu. Kau meninggalkan aku, Kota kecil ini, kenangan kita, demi gemerlap dunia di seberang lautan. Kau pergi membawa janji-janji manis itu, membungkusnya rapat-rapat dalam koper mewahmu, dan meninggalkanku terdampar di antara reruntuhan kenangan. Waktu berlalu. Aku tumbuh dewasa, belajar merangkai hati yang patah. Aku menjadi wanita karir yang sukses, membangun imperium bisnis di kota ini, kota yang *kau* tinggalkan. Aku belajar menertawakan masa lalu, meski senyumku tak pernah benar-benar sampai ke mata. Dan kemudian, kau kembali. Lima belas tahun berlalu, dan kau berdiri di hadapanku, sosok yang berbeda. Lebih dewasa, lebih mapan, dan lebih menyedihkan. Di matamu, aku melihat penyesalan. Penyesalan yang terlambat. Kau meminta maaf. Kata-kata itu mengalir dari bibirmu seperti air sungai yang kotor, tercemar oleh waktu dan kebohongan. Kau bilang kau menyesal, bahwa kau selalu memikirkanku, bahwa kesuksesanmu terasa hampa tanpa diriku. Aku hanya tersenyum sinis. "Kau terlambat, Li Wei," ujarku, suaraku dingin dan datar. "Dulu, aku adalah seorang gadis bodoh yang percaya pada janji-janjimu. Sekarang, aku adalah seorang wanita yang tahu harga diriku." Aku melihatmu hancur di depanku. Lebih hancur dari yang kubayangkan. Tapi, rasa sakit yang dulu membakar hatiku, kini telah sirna. Yang tersisa hanya kehampaan, dan sedikit rasa puas yang getir. Aku tahu, secara hukum aku tidak melakukan apapun. Secara moral, mungkin aku kejam. Tapi takdir memang aneh. Perusahaanmu, Li Wei, kini bergantung pada investasi dariku. Bisnis yang kau bangun dengan susah payah, kini berada di ujung tanduk, menunggu sentuhanku. Aku bisa menyelamatkannya, atau membiarkannya runtuh. Pilihan ada padaku. Dan aku memilih untuk diam. Aku hanya akan menunggu dan melihat. Melihat bagaimana roda karma berputar, bagaimana angin musim gugur kembali menerbangkan daun-daun maple, sama seperti lima belas tahun lalu. Bedanya, kali ini, kau yang akan merasakan dinginnya angin pengkhianatan. Dulu, kau merenggut kebahagiaanku. Sekarang, *akankah* aku merenggut masa depanmu, atau membiarkan luka lama itu sembuh, selamanya?
You Might Also Like: 135 Cara Memilih Pembersih Wajah

OlderNewest

Post a Comment