TOP! Bayangan Yang Mengajariku Menyiksa

**Bayangan yang Mengajariku Menyiksa** Hujan selalu turun di atas Bukit Genting saat aku kembali. Bukan hujan yang deras, yang menyapu bersih debu dan kenangan, melainkan gerimis *halus*, seperti air mata para arwah yang tak bisa lagi menangis keras. Udara dingin menembus jubahku yang tipis, tapi aku tak merasakan apa-apa. Rasa sakit, penyesalan, semua mati bersamaku. Atau, mungkin, baru mulai *sekarang*. Aku, Lin Wei, kembali bukan sebagai pahlawan yang dirindukan, bukan pula sebagai pendendam yang membara. Aku kembali sebagai bayangan. Bayangan yang menolak pergi, melekat pada dunia yang dulu pernah kurasa hangat. Dunia yang kini terasa asing, sunyi, dan dipenuhi aroma **kebohongan**. Rumah tempatku dilahirkan, kini menjadi saksi bisu dari hilangnya keadilan. Ayahku, sosok yang kukagumi, kini hanya bayangan yang bergumam di pojok ruang kerja, dikelilingi berkas-berkas yang menguarkan aroma pengkhianatan. Ibuku, dulu secerah mentari, kini layu seperti bunga yang tak disiram. Hatiku, atau apa yang tersisa darinya, berdenyut sakit melihat mereka. Aku *bukan* hantu yang menakutkan. Aku hanya roh yang tersesat, mencoba merangkai kembali kepingan-kepingan kebenaran yang hancur berantakan. Aku mengikuti mereka, Ayah dan Ibu, seperti *bayangan* mereka sendiri. Mendengarkan bisikan-bisikan di balik pintu, mengamati ekspresi yang disembunyikan di balik senyum palsu. Aku belajar menyiksa. Menyiksa diri sendiri dengan harapan, dengan kerinduan, dengan rasa *bersalah*. Setiap malam, aku kembali ke makamku. Batu nisan dingin itu adalah cermin dari jiwaku yang membeku. Di sana, di bawah rintik hujan abadi, aku berdialog dengan diriku sendiri. Apakah yang kuinginkan sebenarnya? Balas dendam? Menghancurkan mereka yang telah menghancurkanku? Jawabannya datang perlahan, seperti kabut yang menyelimuti Bukit Genting. Bukan balas dendam yang kucari. Bukan penderitaan yang ingin kutorehkan. Aku mencari **kedamaian**. Kedamaian untuk Ayah dan Ibu, yang terperangkap dalam jaring-jaring kebohongan. Kedamaian untuk diriku sendiri, agar bisa beristirahat dengan tenang. Malam demi malam, aku menyusun kepingan-kepingan itu. Menyaksikan kebenaran terungkap sedikit demi sedikit, seperti bunga yang mekar di kegelapan. Pengkhianatan, ambisi, ketamakan – semuanya terungkap. Ayahku, yang kukira sempurna, ternyata hanyalah korban. Ibuku, yang kukira lemah, ternyata adalah sumber kekuatan sejati. Saat matahari terbit, membawa serta sisa-sisa malam, aku tahu tugasku telah selesai. Kebenaran telah diungkap, meskipun dengan harga yang mahal. Ayah dan Ibu akan baik-baik saja. Mereka akan menemukan kedamaian mereka sendiri. Dan aku… aku akhirnya bisa pergi. Akhirnya, dia tersenyum, sebuah senyum yang *damai*.
You Might Also Like: 20 Cat Pictures Images Hd Photo

OlderNewest

Post a Comment