Baiklah, ini dia kisah Dracin dengan judul "Aku Terbiasa Dihormati, Tapi Kau Membuatku Belajar Rendah Hati": **Aku Terbiasa Dihormati, Tapi Kau Membuatku Belajar Rendah Hati** Aula Emas Istana Naga itu berkilauan, diterangi ribuan lilin yang memantulkan cahaya dari permata yang menghiasi pakaian para pejabat. Namun, di balik kemegahan ini, bersembunyi aroma pengkhianatan yang lebih tajam dari aroma dupa termahal sekalipun. Permaisuri Agung, Xian Mei, berdiri tegak, pandangannya *sedingin* es. Ia terbiasa dengan penghormatan, dengan setiap keinginannya dipenuhi sebelum terucap. Istana ini adalah *miliknya*, atau begitulah yang selama ini ia yakini. Lalu, datanglah Pangeran Li Wei. Li Wei, pangeran kesembilan belas, seorang anak haram yang dianggap rendah oleh sebagian besar penghuni istana. Namun, matanya menyimpan kecerdasan yang *berbahaya*, dan senyumnya…senyumnya mampu meruntuhkan benteng pertahanan yang telah dibangun Xian Mei selama bertahun-tahun. Pertemuan pertama mereka terjadi saat Xian Mei menginspeksi kebun istana. Li Wei tengah duduk di bawah pohon sakura, memainkan suling. Musiknya *menyayat hati*, penuh kerinduan dan kesepian. Xian Mei, yang terbiasa dengan pujian dan sanjungan, terpaku oleh kejujuran yang terpancar dari alunan nada itu. "Siapa kau?" tanya Xian Mei, suaranya setajam belati. Li Wei mendongak, tatapannya tidak menghindar. "Hanya seorang pangeran yang mencoba menemukan kedamaian di tengah hiruk pikuk istana," jawabnya, suaranya tenang. Sejak saat itu, Xian Mei dan Li Wei terjerat dalam permainan cinta dan kekuasaan. Xian Mei, yang haus akan *kendali*, mencoba menggunakan Li Wei sebagai pion dalam rencananya mengamankan tahta bagi putranya. Li Wei, yang mendambakan *cinta* yang tulus, mencoba menembus lapisan es yang membungkus hati Xian Mei. Setiap pertemuan mereka adalah medan perang. Janji-janji manis diucapkan di bawah sinar bulan, namun setiap kata bisa menjadi pedang yang menusuk dari belakang. Xian Mei belajar tentang kerentanan, tentang rasa sakit karena dicintai tanpa syarat. Li Wei belajar tentang ambisi, tentang harga yang harus dibayar untuk kekuasaan. Cinta mereka tumbuh di tengah intrik dan rahasia. Mereka saling mempercayai, namun di saat yang sama, saling mencurigai. Mereka saling *membutuhkan*, namun tahu bahwa hanya satu yang bisa keluar sebagai pemenang. Puncaknya terjadi saat upacara penobatan putra mahkota. Xian Mei telah merencanakan segalanya dengan sempurna. Namun, di saat terakhir, Li Wei mengungkap pengkhianatan Xian Mei kepada kaisar. Terungkaplah bagaimana ia selama ini menggunakan pengaruhnya untuk memanipulasi politik istana. Mata Xian Mei berkilat marah. "Kau! Bagaimana bisa kau mengkhianatiku?" Li Wei menatapnya dengan *penyesalan* di matanya. "Aku tidak mengkhianatimu, Xian Mei. Aku mengkhianati istana yang penuh kebohongan ini. Aku ingin kau belajar tentang keadilan, tentang kerendahan hati. Sesuatu yang selama ini kau abaikan." Xian Mei, yang selama ini merasa tak terkalahkan, akhirnya runtuh. Ia dicopot dari jabatannya dan diasingkan ke kuil terpencil. Di sana, ia merenungkan kesalahannya, tentang cinta yang ia sia-siakan, tentang kekuasaan yang ia salahgunakan. Namun, di balik tirai bambu kuil, Xian Mei merencanakan balas dendamnya. Ia mengumpulkan informasi, menjalin hubungan rahasia, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Ia belajar kesabaran, *strategi*, dan yang terpenting, bagaimana menggunakan kelemahan orang lain untuk keuntungannya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, Xian Mei kembali ke istana. Bukan sebagai permaisuri, tetapi sebagai seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, namun mendapatkan sesuatu yang jauh lebih *berbahaya*: dendam yang membara. Dengan senyum dingin di bibirnya, Xian Mei membisikkan kalimat yang membuat bulu kuduk merinding: "Permainan baru saja dimulai, Pangeran Li Wei…"
You Might Also Like: Cari Skincare Aman Ini Yang Teruji

Post a Comment