**Mahkota Itu Terjatuh Bersama Doa, Saat Aku Berhenti Menyebut Namamu Dalam Tidur** Desir angin di Bukit Seribu Bintang terasa *familiar*, menusuk hingga ke sumsum tulangku. Bukan hanya karena dinginnya, tapi karena kenangan yang terpendam, *terkunci* rapat di kedalaman jiwa. Aku, Lian, seorang tabib desa, merasa seolah pernah berdiri di sini sebelumnya, ratusan tahun lalu, mengenakan sutra merah darah dan bukan jubah lusuhku ini. Setiap malam, mimpi itu datang. Istana megah, taman lavender yang bermandikan cahaya rembulan, dan seorang pria dengan senyum mematikan. Dia memegang mahkota perak berukir naga, mahkota yang terasa begitu *berat* di kepalaku dalam mimpi itu. Lalu, adegan berikutnya adalah pisau belati yang berkilauan, pengkhianatan, dan jeritan panjang yang terputus. Aku terbangun dengan napas tersengal, nama itu terucap lirih dari bibirku: "Chang... *Chang Wei*..." Awalnya, aku pikir itu hanya demam. Tapi mimpi itu semakin nyata, semakin sering. Aku mulai menemukan pecahan ingatan di sela-sela kesadaranku. Chang Wei, Kaisar Agung, kekasihku, orang yang *kurasa* akan kuabdikan seluruh hidupku. Namun, ia lebih memilih kekuasaan, lebih memilih takhta daripada cintaku. Ia mengkhianatiku, membunuhku, demi merebut mahkota. Kehidupan baru ini seharusnya menjadi lembaran bersih. Tapi takdir punya selera humor yang kejam. Chang Wei, atau setidaknya, *reinkarnasinya*, hadir dalam hidupku. Dia adalah Li Wei, seorang pedagang kaya raya yang tiba di desa kami. Matanya, senyumnya, aroma cendana yang melekat padanya... semuanya mengingatkanku pada *masa lalu yang gelap*. Aku merasakan dorongan kuat untuk balas dendam, untuk membuatnya merasakan sakit yang kurasakan. Tapi aku sadar, aku bukan lagi Lian, Permaisuri yang berlumuran darah. Aku adalah Lian, seorang tabib desa yang menyimpan bibit obat dan harapan di tangannya. Keputusanku pun terbentuk. Aku tak akan menumpahkan darah. Aku tak akan merebut takhta. Aku hanya akan *mengubah* takdir. Ketika Li Wei menawarkan bantuan untuk desaku yang dilanda kelaparan, aku menerimanya. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena aku tahu, dengan pengaruhnya, aku bisa membawa kemakmuran bagi rakyatku. Dengan setiap bantuan yang ia berikan, dengan setiap senyum tulus yang ia tujukan padaku, ia semakin terikat pada desa ini, pada *takdir* yang kubuat untuknya. Aku melihat ambisinya meredup, kegilaan akan kekuasaan memudar. Li Wei mulai mencintai kesederhanaan, mulai memahami arti pengorbanan. Ia tak lagi mengejar mahkota, melainkan membangun jembatan. Ia tak lagi ingin menjadi kaisar, melainkan menjadi bagian dari komunitas. Suatu malam, di bawah rembulan sabit, Li Wei bertanya, "Lian, kenapa kau begitu baik padaku? Padahal, aku merasa... aku merasa pernah menyakitimu di masa lalu." Aku menatap matanya, melihat secercah penyesalan di sana. Aku tersenyum tipis. "Mungkin saja," jawabku. "Tapi yang terpenting adalah apa yang kau lakukan *sekarang*." Mahkota itu memang jatuh bersamaku, bersama doaku. Tapi kali ini, aku tak akan mati sia-sia. Aku telah mengubah takdirnya, takdirku, dan takdir desaku. Aku telah memilih jalan kedamaian, meskipun darah masa lalu masih terasa kental di lidahku. Dan ketika ia tertidur, aku berbisik lirih, "Aku akan kembali, *entah kapan*, untuk memastikan kau mengingat hutangmu."
You Might Also Like: Your Ultimate Guide To Chevy S10 Trucks

Post a Comment